INFRASTRUKTUR: Pembangunan Waduk Jlantah Dimulai 2013

Bony Eko Wicaksono/JIBI/SOLOPOS 0

Ilustrasi pembangunan waduk (JIBI/SOLOPOS/Antara)

KARANGANYAR–Pembangunan Waduk Jlantah di Kecamatan Jatiyoso bakal dikerjakan mulai 2013. Saat ini, Detail Engineering Design (DED) masih dalam tahap revisi Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Karanganyar, Priharyanto mengatakan DED pembangunan Waduk Jlantah telah selesai dibuat Bappeda Karanganyar pada 2011. Selanjutnya, DED tersebut diserahkan kepada BBWSBS untuk dikaji secara teknis. Namun, karena ada kekurangan desain awal pembangunan waduk maka pihak BBWSBS merevisinya.
“Memang sudah jadi DED-nya, mungkin secara teknis masih kurang jadi direvisi oleh BBWSBS,” ujarnya saat ditemui wartawan, Jumat (14/9/2012).

Pihaknya belum dapat memperkirakan kebutuhan anggaran yang digunakan untuk membangun waduk tersebut. Anggaran pembangunan waduk dapat dihitung secara rinci apabila DED telah selesai direvisi. Anggaran pembangunan Waduk Jlantah berasal dari Kementerian Pekerjaan Umum.

Pembangunan waduk tersebut untuk mengatasi pasokan air yang mengalir di lahan pertanian terutama wilayah Jumantono, Jumapolo, Jatipuro dan Jenawi (4J) dan sebagian Wonogiri. Pasalnya, wilayah tersebut dipastikan kekeringan selama musim kemarau.

“Wilayah itu kan selalu kekeringan, salah satu solusinya dengan membangun waduk agar petani tetap dapat bercocok tanam saat musim kemarau,” ujarnya.

Sebenarnya, ada dua waduk yang bakal dibangun yakni Waduk Jlantah di Kecamatan Jatiyoso dan Gondang di Kecamatan Kerjo. Pembangunan Waduk Gondang memasuki tahap pembuatan DED. Waduk ini untuk memasok air ke lahan pertanian di wilayah Kerjo, Mojogedang dan sebagian daerah Sragen.

Sementara Camat Jumantono, Timotius Suryadi, meminta agar instansi terkait mempercepat pembangunan Waduk Jlantah. Waduk tersebut bakal memasok air ke seluruh lahan pertanian yang selama ini kekeringan.

Selama ini, para petani mengandalkan bendungan untuk mengairi lahan pertanian di wilayahnya. Namun, debit air di bendungan menurun drastis selama musim kemarau. Sehingga tidak dapat menyimpan cadangan air saat musim kemarau.

“Kami juga mengusulkan agar dibangun kolam penampung air atau embung di hulu sungai sehingga lahan pertanian tetap ada pasokan air,” tambahnya.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)


    A- A A+