KURIKULUM 2013: Pengintegrasian TIK, Fasilitas Jadi Kendala

Nenden Sekar Arum N/JIBI/SOLOPOS 15

Ilustrasi (JIBI/SOLOPOS/Burhan Aris Nugraha)

SOLO – Rencana pengimplementasian Teknologi Informasi dan Komputer (TIK) pada semua mata pelajaran di SMP pada kurikulum 2013, dinilai akan terkendala pada masalah fasilitas. Pasalnya sampai saat ini masih banyak sekolah yang belum memiliki perangkat TIK secara lengkap.

Kepala SMP Negeri 3 Solo sekaligus konsultan TIK SMP, Wahyu Suadi, menjelaskan semua sekolah termasuk Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI) di Solo belum memiliki kesiapan fasilitas TIK untuk medukung semua mata pelajaran.

Dia mencontohkan hingga saat ini di sekolahnya hanya ada satu laboratorium dengan 40 unit komputer. “Sebagian komputer di lab juga tidak menyala karena rusak,” jelasnya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (3/12/2012).

Menurutnya agar pembelajaran berbasis TIK dapat berjalan dengan baik, setiap kelas minimal memiliki fasilitas sebuah LCD proyektor dan satu unit komputer atau laptop. Sehingga materi pelajaran bisa disampaikan kepada siswa lebih interaktif.

Wahyu menambahkan, hingga saat ini dari total 27 ruang kelas, baru 18 ruang kelas yang telah dilengkapi fasilitas LCD proyektor. Sekolah juga baru memiliki tiga laptop yang digunakan secara bergiliran.

“Sementara baru kelas VIII dan IX yang dilengkapi LCD proyektor, sisanya masih dalam tahap perencanaan,” imbuhnya.

Selain itu, idealnya pembelajaran berbasis TIK mengharuskan setiap siswa menggunakan laptop. Namun hal itu pun menjadi kendala sendiri, karena tidak semua siswa berasal dari keluarga mampu yang dapat menyediakan fasilitas itu.

“Selama ini ada beberapa siswa yang sudah membawa laptop, tetapi belum diwajibkan untuk menggunakannya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas,” paparnya.

Hal senada disampaikan Wakil Kepala urusan Kurikulum SMPN 25 Solo, Sugeng Santosa. Dia berpendapat jika siswa tidak dapat dipaksakan untuk memiliki laptop atau komputer. Apalagi di sekolahnya yang merupakan SMP plus, semua siswa berasal dari kalangan tidak mampu.

“Namun selama ini bisa diakali dengan cukup banyak warnet murah,” jelasnya saat ditemui wartawan, Senin.

Meski demikian dia mengaku tidak keberatan jika semua pelajaran harus berbasis TIK. Karena hampir semua guru di sekolah setempat telah memiliki laptop pribadi. Selain itu, menurutnya laboratorium komputer dapat dimaksimalkan penggunaanya dengan mangatur jadwal dengan rapi.

Selain penyediaan fasilitas, ke depannya pun harus dipikirkan mengenai biaya perawatan fasilitas. Jika semua telah berbasis TIK, diperkirakan akan ada peningkatan biaya perawatan lebih dari 200%. Selain itu, barang elektronik pun memiliki jangka waktu pemakaian yang mengharuskan diganti berkala.

“Perkembangannya sangat cepat, jadi seringkali harus segera diganti,” jelas Wahyu.

15 Komentar untuk “KURIKULUM 2013: Pengintegrasian TIK, Fasilitas Jadi Kendala”

  1. mohon kepada bapak untuk dipertimbangkan kembali kurikulum 2013, jangan dihapuskan TIK, bapak suruh kami ngajar mapel yang lain, apa nggak jadi guru jadi-jadian kami, ngajar nggak dibidang yang kami ampu

  2. Bapak suruh kami guru TIK ngajar mapel yang lain, apa nggak jadi guru jadi-jadian kami nantinya, guru yang tidak profesional di bidangnya, harusnya pak, jangan PKn itu jadikan 3 jp, apa bapak nyangka nantinya karakter anak akan berubah oleh 3jp tersebut,

  3. kalo kami guru tik tidak diberi berbuat baik, karena tik dihapus,solusi bagi guru tik tidak ada, okey kami jadi hacker dan cracker saja.setuju rekan semua?

  4. argumen saudara-saudara baik TIK mohon di kembalikan seperti di KTSP (diadakan) karena pertimbangan kami apakah seluruh siswa bisa langsung memahami tata cara menjalankan komputer secara baik dan benar, contoh jam mapel Matematika “anak-anak mari kita buka program Excel lalu kita masukkan rumus yaitu mencari Nilai Tukar Rupiah” mungkin anak yang pintar dia cerdas menjalankan tapi kalau anak masih gaptek menggunakan habislah waktu menerangkan TIK, mapel Matematika berubah fungsi jam TIK. (kami hanya 1 tapi kami tetap kami) mungkinkah momok ini dapat dikaji ulang kepada kepala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan maupun Staf terkait.

  5. gimana pak nasib kami guru TIK…..

  6. setuju, perubahan lebih maju boleh aja, tetapi jangan ada korban kebijakan . sebagai guru tik, kami merasa dipojokkan dengan tidak solusi yang jelas. nasib sertifikasi juga bagimana.

  7. udh aja hapus smua mapel..sisain mapel brhitung dan brnyanyi..muloknya tawuran dan geng2 motor…ancur2

  8. Pengintegrasian TIK, Fasilitas Jadi Kendala”
    Mesti nya pemerintah arus berpikir, berarti masih kurang untuk fasilitas untuk TIK ! jadi jangan dong pelajaran tersebut di hapuskan ( jadi korban ). menurut survey Indonesia ini penguna jaringan internet terendah di ASIA apakah harus ketinggalan lagi?

  9. gimana to pak mentri apa dak srampangan bukan jurusane kok di suruh ngjar to pakkkk……

  10. RSBI aja terkendala fasilitas..apalagi sekolah2 non RSBI..WOW!!

  11. Pengintegrasian TIK ke mapel, sangat bagus. tetapi bagaimana dengan nasib para guru yang sudah mengambil sertifikasi T I K. padahal awalnya ybs bukan dari mapel T I K. mereka tentu bingung. ambil sertifikasi sesuai mapel, sudah kelebihan guru. ambil sertifikasi T I K, 2013 tidak ada mapel T I K. bagaimana,Ni….

  12. jalan keluarnya tolak saja kurikulum 2013, karena yang menyusunnya tidak berpengalaman, hanya teori yg diketahui, akibatnya guru memikul bebannya

    • Betul..ujung2nya..guru2 harus ikut sosialisasi lagi..pelatihan lagi..ninggalin kelas lagi..proyek lagi..

      • Yah itu hebatnya klo punya menteri kelebihan ilmu ampek membingungkan pendidik dan siswa … trs kita hrs bilang WOW … gt ?

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)


    A- A A+