MOTIVASI: Memburu Resep Sukses di Ruang Seminar

Adib Muttaqin Asfar/JIBI/SOLOPOS 0

MOTIVASI-Ippho Santosa saat tampil di Seminar 7 Keajaiban Rizki di Sunan Hotel, Minggu (13/5) lalu. (Espos/Adib Muttaqin Asfar)

“Kalau mau rezeki gede, sedekahnya juga harus gede. Karena sedekah itu nanti akan balik lagi, tidak sendiri tapi bawa teman-temannya,” kata Ippho Santosa dengan semangat tinggi di hadapan lebih dari 700 orang yang memadati ruang Ballroom 3 Sunan Hotel Solo, Minggu (13/5) lalu.

Ucapan itu, seperti ribuan kalimat lain yang meluncur dari motivator yang namanya sedang naik daun itu, didengarkan dengan seksama oleh setiap pasang telinga di ruangan itu. Kata-katanya meluncur deras seolah membius setiap pendengarnya, diamini dan diterima tanpa keraguan. Seperti biasanya, Ippho kembali mengulas tentang tiga hal, rezeki, sedekah dan kesuksesan.

Ratusan orang yang lebih dari setengahnya adalah anak muda itu datang untuk melihat dan mendengar langsung ceramahnya. Sebagian besar dari mereka sudah tahu siapa Ippho dan bahkan telah membaca bukunya yang populer, 7 Keajaiban Rizki berkali-kali. Didorong dengan berbagai testimoni orang-orang yang sudah “sukses” dengan cara yang sama, tujuan mereka pun bulat, yaitu mendengar rahasia sukses ala sang motivator.

“Sedekah dulu, baru usaha sukses. Ingin karier membaik, usaha membaik, jodoh yang baik. Bisa enggak dibeli pakai sedekah? Ingin Mercy, bisa enggak dibeli pakai sedekah?  Jawabannya, semuanya bisa.”

Begitulah cara Ippho menanamkan semangat bersedekah dan gambaran kesuksesan pada setiap orang di setiap seminarnya. Sedekah, menurutnya, adalah salah satu kunci utama manusia meraih sukses di samping beberapa kunci lain yang selalu disampaikannya seperti tertulis di bukunya. Ini juga yang selalu menarik perhatian ratusan pemburu kesuksesan yang memadati seminar-seminarnya di tiap kota.

Dengan harga tiket Rp100.000-Rp150.000, seminar seperti ini memang tidak murah. Tapi, harga itu nyaris tak berarti dibandingkan jalan menuju sukses yang ditawarkan. Tak heran saat sang motivator meminta semua orang untuk melakukan sedekah saat itu juga, hampir semua orang memberikan apa yang dia punya baik uang maupun barang.

TERTUNDUK-Seorang peserta menundukkan kepala mendengarkan ucapan Ippho Santosa, sang motivator, di Sunan Hotel, Minggu (13/5). (Espos/Adib Muttaqin Asfar)

“Itulah menariknya. Kunci sukses itu awalnya simpel, yaitu intinya sedekah,” ujar Yustis Oksa, mahasiswi Komunikasi FISIP UNS seusai mengikuti seminar Ippho.

Yustis adalah satu dari sekian pemburu motivasi sukses lewat berbagai seminar yang digelar di Solo. Memang tidak setiap seminar motivasi didatanginya namun dia cukup sering menyisihkan waktunya untuk mendengar motivasi serupa.

Bagi Yustis, motivasi itu benar-benar perlu agar bisa sukses menjalani hidupnya. Sukses dalam benaknya sebenarnya cukup sederhana, yaitu ingin mendapatkan masa depan seperti impiannya. “Ingin cepat lulus dan yang penting saya pengen jadi orang berguna, maksudnya bisa bekerja dan mapan,” katanya.

“Maklum sekarang ini banyak orang yang lulus kuliah tapi ternyata nganggur, saya tidak ingin seperti itu.”

Begitu pula dengan Dony Ghofur, siswa Kelas XI SMK IT Smart Informatika Solo yang juga mengikuti seminar itu. Menurutnya, seminar seperti ini menguatkan kembali keyakinannya tentang jalan benar dalam menempuh kesuksesan. “Dari sini saya tahu bahwa kebiasaan orang untuk bersedakah ternyata memang benar. Kalau mau meraih sesuatu harus ada sedekahnya.”

Dony pun mengaku semakin tersentuh saat sang motivator kembali mengingatkan pentingnya doa orangtua. Menurut sang motivator, doa orangtua adalah salah satu kunci sukses tidaknya seseorang di samping sedekah. “Ini salah satu yang membuat saya tertarik, apalagi sekarang hidup saya jauh dari orangtua saya yang tinggal di Wonogiri.”

 

Bisnis

Kata sukses kini telah menjadi daya tarik yang luar biasa bagi banyak orang untuk datang ke berbagai seminar motivasi. Semahal apapun biayanya, hampir semua seminar motivasi (khususnya motivasi bisnis) mampu menyedot ratusan orang. Apalagi jika seminar itu menghadirkan motivator yang punya nama besar atau sedang naik daun.

Dalam hal ini, tak semua orang meyakini apa yang ditawarkan para motivator itu seratus persen. Selain karena perbedaan keyakinan tentang kesuksesan, fenomena maraknya seminar ini juga dipandang tidak lepas dari kepentingan bisnis tertentu.

“Di satu sisi hal ini produktif untuk mendorong orang memahami apa itu kesuksesan. Tapi motivasi sukses itu sudah berubah karena orang lebih cenderung ingin melihat motivatornya,” kata M Syaifudin Yudistira, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UMS, Senin (14/5).

Syaifudin memandang ada sisi lain yang membuat para penyelenggara berhasil mendatangkan ratusan orang dalam setiap seminar. Keberhasilan itu tak lepas dari upaya tim marketing di balik nama sang motivator yang begitu populer. Salah satunya adalah munculnya para motivator seperti Mario Teguh dan Ippho Santosa dalam berbagai program televisi. “Mereka kan kebanyakan sudah tahu dari televisi, kemudian mereka beli tiket seminarnya meskipun harganya ratusan ribu rupiah.”

Karena itu pula mahasiswa semester akhir ini enggan mengikuti berbagai seminar motivasi meskipun menghadirkan motivator terkenal. Baginya, kesuksesan tidak mesti dimulai dari seminar motivasi karena soal motivasi kembali pada masing-masing orang. “Kalau motivasi bisnis, motivasi sukses, itu kan tergantung otak yang memberikan sugesti dan sugesti itu tergantung diri kita sendiri.”

 

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)


    A- A A+