Bupati Sragen “Paksa” PNS Ikut Pramuka

Sri Sumi Handayani/JIBI/Solopos Comments Off

JIBI/Espos/Sri Sumi Handayani Anggota Pramuka dan TNI AD Yonif 408/Suhbrasta dan Kodim 0725/Sragen membuat menara luncur seusai upacara Pencanangan Wajib Pramuka Bagi Siswa dan Pegawai di Lingkungan Pemkab Sragen pada peringatan HUT ke-52 Pramuka di Alun-Alun Sragen, Rabu (14/8/2013). JIBI/Espos/Sri Sumi Handayani
Anggota Pramuka dan TNI AD Yonif 408/Suhbrasta dan Kodim 0725/Sragen membuat menara luncur seusai upacara Pencanangan Wajib Pramuka Bagi Siswa dan Pegawai di Lingkungan Pemkab Sragen pada peringatan HUT ke-52 Pramuka di Alun-Alun Sragen, Rabu (14/8/2013).

Solopos.com, SRAGEN—Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman memaksa semua pegawai negeri sipil (PNS) dan pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen terlibat pembinaan dan rekayasa masa depan melalui kegiatan Pramuka.

Salah satu contoh konkret yang dimaksud Agus adalah PNS akan mengikuti kegiatan perkemahan Pramuka pada waktu tertentu. Selain itu secara tegas orang nomor satu di Sragen mengatakan, pejabat dalam hal ini kepala dinas menjadi bapak angkat dari gugus depan (gudep) sekolah. Mereka diminta campur tangan menghidupkan, mengembangkan dan merealisasikan kesadaran membela masyarakat miskin dan bela rasa melalui gerakan Pramuka di setiap sekolah.

Dari situ, Agus berharap Pramuka bukan sekadar simbol seragam yang dikenakan setiap Kamis. PNS harus terlibat melakukan pembinaaan Pramuka di sekolah. Demikian hal kepala sekolah. Bupati menyinggung salah satu indikator penilaian kinerja kepala sekolah dilihat dari kepedulian terhadap proyek rekayasa masa depan dan gugat budaya melalui Pramuka.

“Ini bukan pertama tapi Sragen berproses. Setengah tahun PNS Sragen mengenakan seragam Pramuka. Lalu ada langkah apa? Realisasi idiom. Kata kunci adalah kesadaran pembelaan masyarakat miskin dan bela rasa. Bukan hanya simbol pakaian tapi konkret dan riil membumi,” kata Bupati Agus saat ditemui Solopos.com seusai upacara Pencanangan Wajib Pramuka bagi Siswa dan Pegawai di Lingkungan Pemkab Sragen pada peringatan HUT Ke-52 Pramuka di Alun-alun Pemkab Sragen, Rabu (14/8).

“Saat ini masa jaya televisi sebagai hiburan pokok. Maka saya merasa satu-satunya cara merekayasa masa depan melalui Pramuka. Saya ingin pelajar menjadikan Pramuka sebagai wadah pembentukan karakter. Maka kami canangkan Pramuka menjadi bagian penting dan utama. Bukan lagi gerakan pinggiran,” imbuh Bupati Agus.
Bupati membacakan sambutan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Asrul Anwar. Bupati Agus juga menyematkan penghargaan. Mereka yang mendapat penghargaan adalah FX Sudirman dan Siti Suparni memperoleh lencana Melati, lencana Darma Bakti diterima Suharsono dan Sumardi, dan lencana Pancawarsa diserahkan kepada Joko Saryono dan Suwarno. Selain itu ratusan siswa perwakilan beberapa SMP, SMKN dan MTsN di Sragen menampilkan pergelaran, seperti senam semaphore (SMPN 5 Sragen), kolone tongkat (SMKN Jenar), tenda jalan (SMPN 1 Sragen), jembatan krepyak (SMPN 2 Sragen), menara luncur (SMPN 3 Sragen), pengiriman beban (SMPN 4 Sragen), katrol putar (SMPN 5 Sragen), jembatan tali (SMPN 6 Sragen) dan tandu sepeda (MTsN Sragen).

Agus merasa penting mencanangkan wajib Pramuka di sekolah dan lingkungan Pemkab karena dia menilai generasi muda mulai kehilangan karakter dan watak. Oleh karena itu dia berharap Pramuka menjadi salah satu alat rekayasa masa depan generasi muda. Hal itu karena Bupati Agus menilai karakter generasi muda yang dilahirkan Pramuka adalah karakter membangun bersama dan watak berbangsa.

Comments are closed

A- A A+