GAGASAN: Kota Kreatif Harus Berbasis Kampung

0

Alpha Febela Priyatmono
Dosen di Program Studi Arsitektur
Universitas Muhammadiyah Surakarta. (FOTO/Istimewa)

Kreativitas suatu kota sangat ditentukan aktivitas penduduknya. Wadah kegiatan kreatif penduduk suatu kota dimungkinkan terwujud di semua elemen pembentuk kawasan kota.

Menurut Kevin A Lynch dalam bukunya The Image of City, kota tersusun dari beberapa elemen pendukung, antara lain kawasan hunian (kampung), kawasan karya (industri, perdagangan, jasa), kawasan kegiatan sosial budaya (pendidikan, kesehatan, peribadatan, pemerintahan) dan kawasan kegiatan rekreasi yang dihubungkan satu dengan lainnya melalui jalan, sungai dan   ruang publik lainnya.

Kreativitas kota dapat diaktualisasikan di area umum antara lain di  jalan raya, kawasan khusus pedestrian, gang, jembatan, jalur pejalan kaki, jalan kereta api, sungai, taman kota, plaza, halaman,  serta area privat yaitu di pagar dan bangunan.

Solo merupakan kota tradisional Jawa. Tata ruang kotanya terbentuk secara unik dan spesifik dalam waktu yang lama. Kota Solo dengan Keraton Solo sebagai salah satu titik awal tumbuhnya kebudayaan dan ruang kota berkembang melalui suatu kawasan yang tidak muncul secara intuitif tetapi melalui suatu konsep yang direncanakan secara matang.

Keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran dengan konsep makrokosmos dan mikrokosmos serta penataankawasan hunian masyarakatnya (kampung) mewarnai perkembangan wajah Kota Solo.

Solo sebagai kota budaya dan perdagangan sejak lama dibentuk oleh kawasan kampung-kampung tradisional berbasis kampung kreatif. Menurut RM Sajid dalam bukunya Babad Sala kita mengenal adanya nama-nama kampung.

Kampung Sayangan yaitu kampung tempat abdi dalem keraton yang memproduksi  kerajinan dan peralatan dari tembaga seperti kendil, kenceng, dandang. Kampung Gemblegan yaitu kampung tempat abdi dalem keraton pengrajin kuningan (tukang gemblak). Hasil karyanya antara lain bokor, paidon, tempat kinang.

Kampung Serengan yaitu kampung tempat abdi dalem  keraton yang berprofesi sebagai penyungging atau tukang sereng. Kampung Gapyukan yaitu kampung tempat abdi dalem yang memproduksi barang-barang yang dibubut, antara lain berupa rebab, tabuh gamelan.

Kampung Selakerten atau Kerten yaitu tempat tinggal abdi dalem keraton yang memproduksi barang ukir dari batu (kijing). Nama dari tukang tersebut adalah Ngabehi Selakerten atau Kerten. Kampung Slembaran yaitu kampung tempat abdi dalem  yang memproduksi ukiran keris yang biasa disebut salembar.

Kampung Jagran yaitu kampung tempat tinggal abdi dalem yang bernama Kyai Jragan yang berprofesi sebagai tukang pembuat keris. Kampung Sraten yaitu kampung tempat tinggal abdi dalem yang merawat binatang gajah.

Kampung Jamsaren yaitu kampung lokasi pondok pesantren yang dipimpin Kyai Jamsari. Kampung Kundhen yaitu kampung tempat tinggal kundhi yaitu abdi dalem yang memproduksi gerabah seperti cobek, genthong, anglo.

Kampung Telukan yaitu tempat tinggal abdi dalem teluk yang pekerjaannya medel kain jarik dan lurik. Kampung Baturana yaitu tempat tinggal abdi dalem yang disebut batusarana yang berprofesi sebagai tukang batu.

Kampung Kestalan yaitu tempat yang dahulunya berfungsi sebagai kandang kuda,  dalam bahasa Belanda disebut stal. Kampung Balapan yaitu kampung yang dahulunya dipakai untuk pacuan kuda (bahasa Jawa: balapan). Kampung Pacinan yaitu kampung tempat tinggalnya etnis China. Kampung Arab yaitu kampung tempat tinggalnya etnis Arab yang sekarang lebih dikenal dengan kampung Pasar Kliwon.

Jauh sebelum Keraton Kasunanan Surakarta berdiri, menurut Mlayadipuro dalam bukunya Sejarah Kyai Ageng Anis-Kyai Ageng Laweyan, semasa kerajaan Pajang (1546) ada sebuah kampung tempat membuat benang lawe (bahan sandang) yang sekarang terkenal dengan nama Kampung Laweyan.

 

Potensi Lokal

Pengembangan kampung  dengan memberdayakan potensi   lokal berbasis pariwisata kreatif dan pembangunan berkelanjutan  yang bertumpu pada industri (usaha kecil dan menengah/UKM), bangunan dan lingkungan, sejarah serta tradisi sosial budayanya dapat mengangkat suatu kampung menjadi kampung kreatif.

Terwujudnya kampung-kampung kreatif tersebut akan menjadi salah satu generator penggerak berkembangnya suatu kota menjadi kota kreatif. Menurut Hermantoro, dalam bukunya Creative Based Tourism, pariwisata kreatif akan mempercepat dorongan suatu kampung menjadi kampung kreatif.

Pariwisata berbasis kreativitas adalah pariwisata yang melibatkan komunitas lokal sebagai sumber inspirasi dan terlibat dalam proses kreatif sebuah kunjungan wisata. Dalam hal ini wisatawan kreatif dapat bersifat individual atau kelompok yang melakukan perjalanan dengan tujuan untuk pengembangan kreativitas.

Wisatawan kreatif tidak masuk dalam kategori wisatawan massal yang hanya mengarah pada leisure tourism. Pariwisata kreatif merupakan bentuk dari konsep pariwisata yang bertanggung jawab terhadap keberadaan komunitas lokal.

Pariwisata kreatif dipahami sebagai pariwisata yang bertujuan untuk pengembangan diri, tidak bersifat massal, mengakomodasi keberadaan usaha menengah dan kecil, memberikan ruang interaksi pada komunitas dan memberikan penghargaan kepada lingkungan.

Wisatawan kreatif adalah wisatawan yang tidak hanya semata-mata memberikan kompensasi terhadap dampak yang dihasilkannya, namun mereka harus dapat menjadi bagian dari komunitas itu sendiri dan bermanfaat bagi kesejahteraan komunitas lokal (host community).

Tujuan pariwisata masa depan adalah tujuan pariwisata yang kreatif yang memberikan dampak. Menurut Hermantoro, dampak tersebut antara lain memberikan kesejahteraan jangka panjang pada masyarakat lokal melalui konsep pengembangan pariwisata berbasis komunitas, menjamin kepuasan pengalaman wisatawan, paling tidak kepuasan wisatawan dapat melebihi ekspetasinya.

Selain itu, meningkatkan keuntungan bisnis bagi sektor swasta dan dapat menciptakan suatu iklim usaha yang kondusif, mengoptimalkan dampak positif ekonomi, sosial, dan lingkungan agar terjadi keseimbangan pembangunan.

Yang tak kalah penting adalah meningkatkan citra tujuan secara politis karena citra tujuan bisa mendongkrak citra politis suatu negara. Dan yang terakhir, meningkatkan kreativitas dan kesejahteraan masyarakat setempat guna kesinambungan pembangunan.

Dalam hal ini, jenis kegiatan pariwisata berbasis kreativitas yaitu kegiatan pariwisata bersumber budaya dan ilmu pengetahuan lokal yang dikembangkan secara interaktif antara komunikasi kreatif lokal dengan wisatawan dan dapat menghasilkan produk baru dari interaksi yang dilakukan tersebut.

Pariwisata kreatif harus berbasis pada  pembangunan wisata berkelanjutan. Adapun ciri-ciri pariwisata berkelanjutan antara lain aktivitas yang dilakukan minimal berbasis ramah lingkungan, mencerminkan budaya lokal serta ekonomis.

Dalam perkembangannya, Kota Solo punya beberapa kampung kreatif, antara lain Kampoeng Batik Laweyan dan Kampung Wisata Batik Kauman. Dua kampung ini adalah penghasil batik tradisional yang telah berkembang menjadi pusat industri kreatif dan pariwisata kreatif dengan objek andalan adalah batik, kuliner, bangunan, sejarah serta tradisi sosial kehidupan masyarakatnya.

Ke depan akan muncul Kampung Kerajinan Njayengan yang mengandalkan industri perhiasan emas dan intan serta tradisi budayanya sebagai unggulan. Kampung sangkar burung, kampung shuttlecock, kampung mebel, kampung blangkon dan masih banyak potensi kampung lainnya adalah yang selama ini belum digali dan diberdayakan dengan optimal.

Semakin tumbuh dan berkembangnya kampung-kampung kreatif,  ditambah aktivitas wisata  kreatif dari warga  kota di kawasan lainnya yang disertai penataan sarana dan prasarana kota yang memadai akan berujung pada terwujudnya cita-cita  Solo sebagai kota kreatif.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)


    A- A A+