Inflasi Di atas 1%, Ekonomi Solo Dinilai Mengkhawatirkan

Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/SOLOPOS 0

SOLO – Perekonomian Solo dinilai sudah sangat mengkhawatirkan. Hal ini ditandai dengan angka inflasi yang terus mengalami peningkatan. Bahkan, sepanjang triwulan I tahun ini Solo selalu mencatat inflasi di atas 1%, dengan inflasi tahun kalender yang sudah mencapai 3,84%.

Parahnya, sumber penyumbang inflasi terbesar adalah bahan pangan, seperti bawang merah, bawang putih dan cabai. Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Solo, Budi Suharto, mengakui Pemerintah Kota Solo mulai mewaspadai tren tingginya inflasi ini. Dengan sumber inflasi terbesar berasal dari bahan pangan, maka pihaknya meminta Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Solo konsentrasi terhadap masalah perdagangan, terutama perdagangan komoditas pangan.

“Mengingat Solo bukanlah wilayah produksi. Jadi, kondisi stok dan distribusi komoditas ini harus benar-benar diperhatikan,” kata Budi, di sela-sela Diseminasi Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi (SiHati), di Kantor Bank Indonesia (BI) Solo, Selasa (16/4/2013).

Dia menjelaskan, pada 2011 Solo pernah mendapatkan penghargaan dengan angka pengendalian inflasi terbaik. Saat itu, inflasi Solo hanya 1,93%. Di tahun 2012 naik menjadi 2,87% dan triwulan I tahun ini sudah 3,84%.

Kepala Kantor Perwakilan BI Wilayah V, Dewi Setyowati, yang juga Tim Pemantau dan Pengendalian Harga (TPPH) Jateng, menambahkan kenaikan inflasi dipicu oleh hal-hal sepele seperti bawang merah, bawang putih dan cabai. Kondisi ini cukup ironi pasalnya mandat Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) menyebutkan Jateng adalah wilayah penyangga komoditas pangan.

“Bisa dicontohkan, di Jateng ini ada 13 pabrik gula. Tetapi mengapa pada momen-momen tertentu harga gula bisa naik. Di Jateng juga ada daerah penghasil bawang merah dan bawang putih, bahkan punya banyak kantung produksi beras. Tapi komoditas ini bisa menjadi penyumbang terbesar inflasi?” terang Dewi.

Ada satu kendala yang membuat pengendalian harga produk pangan di Jateng ini sulit dilakukan, yaitu tidak adanya informasi yang akurat mengenai jumlah produksi bahan pangan, stok pangan dan tidak adanya patokan harga yang wajar. Maka saat ini BI Wilayah V mulai merintis adanya sistem informasi harga dan produski komoditi (SiHati).

“Selama ini kami sulit mendapatkan data produksi beras, kedelai, jagung, gula dan bumbu-bumbu. Maka kami pun tidak tahu kekuatan produksi di Jateng, posisi suplai atau stok dan sebagainya. Dan selalu ada asimetri informasi antara petani dan pedagang,” tambah Dewi.

SiHati berupa website yang berisi informasi berkualitas terkait harga dan produksi komoditas, sehingga masyarakat menjadi lebih paham mengenai kondisi aktual dan memudahkan pengendalian ekspektasi. Bagi pemerintah daerah, SiHati ini menjadi informasi dasar terkait pengendalian inflasi yg lebih terintegrasi.

Deputi Bidang Ekonomi Moneter BI Solo, Arif Nazaruddin, menyampaikan saat ini TPID Solo punya beberapa piranti pengendalian harga yaitu billboard elektronik di dua pasar tradisional dan SMS. “Ke depan akan kami integrasikan dengan SiHati.”

Dewi menambahkan, survei untuk input data di SiHati itu melibatkan enumerator di beberapa daerah seperti Semarang, Solo, Purwokerto, Tegal, Kudus, Magelang dan Cilacap.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)


    A- A A+