KESELAMATAN TRANSPORTASI: Papua Catat Jumlah Kecelakaan Pesawat Terbanyak

M Tahir Saleh/JIBI/Bisnis Indonesia 0

Serpihan pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 yang jatuh di Gunung Salak, Jawa Barat, menjadi salah satu kecelakaan udara terburuk di tahun 2012. (JIBI/SOLOPOS/Antara)JAKARTA — Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan Papua menjadi wilayah dengan tingkat kecelakaan transportasi udara tertinggi dalam 6 tahun terakhir dengan 25 kali kecelakaan disusul oleh Jawa 20 kecelakaan.

Berdasarkan data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) periode 2007—2012, wilayah di ujung timur Indonesia yang terkenal dengan medan terjal itu mencatatkan 25 kali kecelakaan dan dua kali insiden serius dalam periode 6 tahun itu. Setelah Papua, Jawa di urutan kedua dengan 20 kecelakaan dan 14 kali insiden serius disusul tiga pulau lain yakni Sumatra, Kalimantan, dan Kepulauan Maluku masing—masing 12 kali. Adapun insiden serius paling banyak terjadi di Sumatra 18 kali dan Jawa 14 kali.

Ketua KNKT Tatang Kurniadi mengatakan selama 6 tahun terakhir itu pihaknya melakukan investigasi terhadap 140 kecelakaan yang terdiri dari 82 kecelakaan dan 58 insiden serius. Dari jumlah kecelakaan itu, korban tewas mencapai 303 orang dan luka—luka mencapai 84 orang. Kecelakaan terbanyak terjadi pada 2011 yaitu 32 kali, sedangkan jumlah korban tewas terbanyak terjadi kecelakaan pada 2007 yaitu 125 orang.

“Sebaran wilayah kecelakaan paling banyak terjadi di Papua sebanyak 25 investigasi disusul di Sumatra 18 investigasi dalam 6 tahun itu mengingat perbedaan medan di Papua itu,” katanya di Jakarta, baru—baru ini. KNKT mengungkapkan kecelakaan paling tragis tahun lalu terjadi di Jawa, saat pesawat Sukhoi Superjet 100 menabrak Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, pada 9 Mei yang mengakibatkan seluruh penumpang berjumlah 45 orang tewas.

Meski Papua mencatatkan angka kecelakaan tinggi, Tatang mengungkapkan dari seluruh kecelakaan transportasi udara itu penyebab paling dominan adalah faktor kesalahan manusia 60,71% dan disusul oleh faktor teknis 32,86%, sedangkan faktor lingkungan hanya 6,43%.

Dari sisi persentase jenis kecelakaan angkutan udara, 59% adalah kecelakaan dan 41% merupakan insiden serius.

Dari 140 kecelakaan itu, kata Tatang, pihaknya memberikan 357 rekomendasi keselamatan dan pihak terkait yang paling banyak memperoleh rekomendasi itu ialah Ditjen Perhubungan Udara selaku regulator penerbangan sipil di Indonesia, ada 146 rekomendasi.

Setelah itu operator mendapatkan rekomendasi keselamatan sebanyak 127 dan bandara 509 rekomendasi.

Sisanya diberikan kepada regulator negara lain (17), pabrik pesawat udara (8), investigation body negara lain (6), dan instansi lain misalnya pemda (3). Tahun lalu dari 37 rekomendasi yang diberikan , Ditjen Perhubungan Udara mencapatkan 13 rekomendasi dan 10 rekomendasi untuk bandara, sedangkan operator mendapatkan 8.

KNKT mencatat laju kecelakaan baik moda transportasi angkutan darat, laut, udara, dan kereta api dalam 6 tahun terakhir sejak 2007—2012 turun signifikan. Berdasarkan perhitungan laju kecelakaan atau rate of accident (RoA) KNKT, laju kecelakaan seluruh moda transportasi mengalami penurunan lebih dari 50%.

Laju kecelakaan itu merupakan alat untuk mengetahui atau mengukur baik atau tidaknya moda transportasi. Perhitungannya yakni jumlah kecelakaan dibagi dengan produksi moda terkait dalam setahun, hasilnya dikali dengan indeks tiap moda transportasi yang berbeda—beda.

Misalnya di moda transportasi udara, perhitungannya jumlah kecelakaan dibagi dengan jumlah produksi jam terbang lalu dikali dengan indeks 100.000, hasilnya RoA untuk transportasi udara membaik, dari 4,12 pada 2007 menjadi 1,43 akhir tahun ini.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)


    A- A A+