Khawatir Air Tanah Tersedot Habis, Warga Keluhkan Pembangunan Hotel Aziza

Muhammad Khamdi/JIBI/SOLOPOS 0

Pekerja menyelesaikan pembangunan Hotel Aziza di Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Solo, Minggu (19/5/2013). Pembangunan hotel milik PT. Cipta Insan Madani tersebut dikeluhkan warga sekitar yang mengaku sosialisasi terkait proyek tersebut sangat kurang. (JIBI/SOLOPOS/Maulana Surya) Pekerja menyelesaikan pembangunan Hotel Aziza di Kedung Lumbu, Pasar Kliwon, Solo, Minggu (19/5/2013). Pembangunan hotel milik PT. Cipta Insan Madani tersebut dikeluhkan warga sekitar yang mengaku sosialisasi terkait proyek tersebut sangat kurang. (JIBI/SOLOPOS/Maulana Surya)SOLO – Warga Kedunglumbu, Pasar Kliwon, mengeluhkan proyek pembangunan Hotel Aziza, Jl Kapten Mulyadi No 115, Kedunglumbu RT 001/RW 007, Pasar Kliwon. Pembangunan hotel dianggap warga dapat mempengaruhi cadangan air sumur warga sekitar.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, warga menyesalkan pembangunan hotel dengan sosialisasi yang minim terhadap warga. Pembangunan hotel dengan enam lantai juga dirasa janggal oleh sebagian besar warga sekitar. Sebelum dilakukan pembangunan, pihak pengelola hotel pernah mengadakan pertemuan dengan tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, LPMK dan petugas kelurahan setempat. Dalam pertemuan awal, pengelola hotel memaparkan bahwa lokasi di samping utara Gedung Al-Irsyad akan dibangun hotel. Namun, warga yang terdampak langsung yakni warga Tegalkonas RT 001 dan RT 002, Kedunglumbu belum dilibatkan. Anehnya, dalam pertemuan awal, pengelola hotel memberikan uang kompensasi Rp250.000 dengan alasan sebagai uang transport.

Pada bulan berikutnya, pihak pengelola hotel kembali melakukan pertemuan dalam rapat arisan RT. Karena waktunya bersamaan dengan arisan RT, mayoritas warga hadir dalam pertemuan tersebut. “Mereka (pengelola hotel) istilahnya kula nuwun kepada warga. Mereka juga menjelaskan akan membuatkan sumur bor arteri dan tidak mungkin mengganggu sumur resapan warga sekitar. Selain itu, proyek itu mengganggu ketenangan warga jika malam hari. Soalnya proyek pembangunan sampai malam hari,” papar warga setempat yang enggan disebutkan namanya, saat ditemui Solopos.com.

Kurang Detail
Setelah mendengarkan pemaparan dari pihak hotel, kata warga itu, tidak ada komplain dalam pertemuan tersebut. Selain itu, masing-masing warga yang hadir diberi uang senilai Rp25.000 atas nama uang sodaqoh dari pihak hotel. “Namanya diberi uang ya kita terima. Tapi warga tidak tahu, itu uang apa? Kalau dikatakan uang kompensasi masak ya jumlahnya segitu. Namun bukan itu sebenarnya yang kami keluhkan. Kami khawatir apakah pihak hotel benar-benar membuat sumur bor arteri atau tidak? Bisa jadi itu hanya akal-akalan mengelabui warga. Maka kami anggap, sosialisasi atas pembangunan kurang detail,” papar dia.

Sementara itu, Sekretaris LPMK Kedunglumbu, HM Sungkar, mengakui setiap orang yang hadir dalam pertemuan awal menerima uang Rp250.000. Namun dia menyangkal bahwa uang itu adalah uang kompensasi atas pembangunan hotel tersebut. “Itu namanya uang transportasi. Intinya pihak hotel telah memberikan sosialisasi yang jelas. Waktu itu, tidak ada warga yang menolak, semua setuju. Jadi aneh kok tiba-tiba ada warga yang menyatakan tidak setuju pembangunan hotel,” jelas Sungkar.

Lurah Kedunglumbu, Koeswidhiyanto, menyatakan pembangunan hotel sudah melalui tahapan sosialisasi kepada warga. “Bahkan sampai andal lalin hotel itu tidak ada permasalahan. Terus ada warga sekitar yang diterima menjadi satpam hotel. Bilamana hotel selesai, sudah ada kesepakatan bahwa khususnya warga Kedunglumbu yang memenuhi persyaratan dari hotel akan dipekerjakan menjadi karyawan. Dan umunya bagi warga Pasar Kliwon,” pungkas Koeswidhiyanto kepada Solopos.com.

Syarat dan Ketentuan:
  • Tulisan singkat, padat, Sopan
  • Tulisan bukan SARA, bukan fitnah, tidak promosi atau mendiskreditkan pihak maupun produk tertentu.
  • Format HTML tidak dapat ditampilkan, hanya file text yang akan ditampilkan.
  • (required)


    A- A A+