KURIKULUM 2013 : Penilaian Deskriptif Tak Boleh Matikan Potensi Siswa

Dian Erika Nugraheny/JIBI/Solopos Comments Off

Solopos.com, SOLO – Sistem penilaian deskriptif dalam Kurikulum 2013 tidak boleh mematikan potensi siswa. Kelebihan dan kekurangan siswa wajib disampaikan dengan kalimat yang membangun.

Kepala Seksi (Kasi) Kurikulum Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) SD Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Solo, Tatik Sudiarti, mengatakan evaluasi dan penilaian pembelajaran siswa dalam Kurikulum 2013 tetap mengacu kepada aspek pengetahuan, sikap dan keterampilan. Kompetensi pengetahuan, lanjutnya, diukur bias diukur dengan ujian tertulis atau tidak tertulis baik harian atau bulanan. Nantinya, hasil ujian dinilai dengan angka disertai deskripsi capaian pembelajaran.

“Misalnya, siswa A mendapat nilai 80. Nilai lalu dilengkapi keterangan rinci hasil belajar, seperti penguasaan materi oleh A sudah baik. Hanya saja, perlu penguatan pada materi x, y dan z,” terangnya saat ditemui Solopos.com di ruang kerjanya, Kamis (22/8/2013).

Untuk aspek sikap, penilaian bisa menggunakan beberapa cara seperti pengamatan perilaku selama pembelajaran oleh guru, pengamatan siswa satu kepada siswa lain dan pengamatan siswa terhadap diri sendiri. Hasil dari ketiganya akan digabungkan dalam bentuk deskripsi yang polanya sama dengan aspek pengetahuan.

Sementara penilaian aspek keterampilan, ujar Tatik, dapat dukur dengan berbagai praktik oleh siswa, seperti pidato, percobaan IPA, membuat prakarya dan sebagainya. Pola penilaiannya sama dengan aspek sikap. Konsep penilaian ketiga aspek berdasarkan PP Nomor 32 Tahun 2013 mengenai Standar Nasional Pendidikan.

Hal serupa juga dikatakan Kasi Kurikulum Bidang Pendidikan Menengah (Dikmen) Disdikpora Kota Solo, Budi Setiono. Menurut Budi, konsep penilaian ketiga aspek dilakukan secara terintegrasi. Tujuan jangka panjangya adalah menutup kekurangan pembelajaran siswa, baik oleh diri sendiri maupun orangtua.

Terpisah, Pengamat Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Furqan Hidayatullah, menyarankan empat pedoman dalam penyusunan kalimat deskriptif penilaian. Keempatnya yakni sesuai dengan kenyataan yang ada, kalimatnya komunikatif untuk siswa dan orangtua, ditulis dengan singkat dan jelas, mendorong siswa agar semakin giat belajar serta dilakukan secara periodik.

“Guru harus membuang kesan repot saat penilaian. Berikan penilaian sejelas dan senyata mungkin agar bisa menghasilkan siswa yang mumpuni secara pengetahuan, sikap dan keterampilan,” terangya saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Jumat siang.

Comments are closed

A- A A+